BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Chronic
obstructie airway disease (COPD) atau Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
adalah istilah yang saling menggantikan. Gangguan progresit lambat kronis
ditandai oleh obstruksi saluran pernafasan yang menetap atau sedikit
reversibel, tidak seperti obstruksi saluran pernafasan reversibel pada
asma (Davey,2002:181).
PPOK merupakan masalah kesehatan
utama di masyarakat yang menyebabkan 26.000 kematian/tahun di Inggris.
Prevalesinya adalah ≥ 600.000. Angka ini lebih tinggi di negara maju, daerah
perkotaan, kelompok masyarakat menengah ke bawah, dan pada manula
(Davey,2002:181). The Asia Pacific COPD Roundtable Group memperkirakan
jumlah penderita PPOK sedang berat di negara-negara Asia Pasific mencapai 56,6
juta penderita dengan angka pravalensi 6,3 persen (Kompas,2006).
Penyakit
paru obsrtuktif kronik (COPD) merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak
menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia, hal ini
disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan
faktor resiko seperti faktor pejamu yang di duga berhubungan dengan kejadian
PPOK semakin banyaknya jumlah perokok kususnya pada kelompok usia muda, serta
pencemaran udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan dan di tempat kerja (
http://www.depkes.go.id , selasa
01:03)
Data badan kesehatan dunia ( WHO )
menunjukkan bahwa pada tahun 1990 PPOK menempati urutan ke 6 sebagai penyebab
utama kematian di dunia sedangkan pada tahun 2002 telah menempati urutan ke 3
setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker (WHO,2002). Di America Serikat di
butuhkan dana sekitar 32 juta US$ dalam setahun dalam menanggulangi
penyakit ini ,dengan jumlah pasien sebanyak 16 juta orang dan lebih dari 100
ribu orang meninggal. Hasil survey penyakit tidak menular oleh direktorat
jenderal PPM dan Pl di 5 rumah sakit provinsi di Indonesia (jawa barat, jawa
tengah, jawa timur, lampung dan sumatra selatan) pada tahun 2004 , menunjukkan
COPD menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan (35%), diikuti asma brokial
(33%), kangker paru (30%) dan lainya (2%) (depkes RI2004). Oleh karena itu
penulis menulis makalah yang berjudul “Asuhan keperawtan COPD” diharapkan
dengan makalah ini penulis dan pembaca dapat mengetahui tentang penyakit COPD,
sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi pasien COPD dan
meningkatkan partisipasi (kemandirian) masyarakat dalam pencegahan COPD.
1.2.Rumusan Masalah
a.
Apa penyakit COPD?
b.
Apa patofisiologis dari COPD?
c.
apa penyebab dari terjadinya COPD?
d.
Apa tanda dan gejala dari COPD?
e.
Bagaimana asuha keperawatan COPD?
1.3.Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui Definisi, Klasifikasi COPD
2.
Mengetahui
patofisiologi, tanda dan gejala dari penyakit COPD
3.
Mengetahui
bagaimana asuhan Keperawatan pada pasien COPD
BAB II
TINJAUHAN TEORI
2.1 Anatomi Sistem Pernapasan
1. Hidung
2. Saluran
pernapasan atas (faring, laring, trakea)
3. Saluran
pernapasan bawah(bronkus, bronkeolus, alveolus)
4. Paru-paru
a.
Sistem
Pernapasan Atas
1. Hidung
Hidung
merupakan organ pertama yang di lalui oleh udara. Didalam rongga hidung
terdapat rambut-rambut dan selaput lendir, yang berfungsi sebagai penyaring,
penghangat dan pengatur kelembaban udara yang akan masuk ke paru-paru.
Fungsi
rongga hidung antara lain :
a)
Memanaskan udara: Dinding rongga hidung
banyak pembuluh darah sehingga memberikan panas pada udara yang mengalir
melewatinya, agar suhu udara yang masuk sesuai dengan suhu tubuh atau bagian
dalam paru.
b) Melembabkan
udara: Dinding rongga hidung juga banyak cairan atau selalu basah, yang penting
dalam melembabkan udara yang masuk, agar seluruh saluran tetap lembab dan tidak
menjadi kering.
c) Menyaring
udara: lender yang dapat dalam sepanjang saluran napas berfungsi penting untuk
menyaring udara inspirasi.partikel yang berterbangan di udara membentur dinding
berlendir dan menetap di sana.
2.
Faring
Faring
(tekak) atau tenggorokan, tempat pertemuan saluran dari hidung dan mulut. Pipa
berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungan dengan eksofagus
pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang hidung
(nasofaring), di belakang mulut (orofaring) dan dibelakang laring
(faring-laringeal). Nares posterior adalah muara rongga-rongga hidung ke
nasofaring.
Faring
dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
a)
Rinofaring atau nasofaring yang dekat ke
rongga hidung
b) Orofaring
yang dekat ke rongga mulut
c) Laringofaring
yang dekat ke larin
3. Laring
Laring
(tenggorokan) terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkannya dari
kolumna vertebrata, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebrata
servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya, menghubungkan faring dengan
trakea. Disini terdapat pita suara untuk menghasilkan suara. Rongga laring
berfungsi pula sebagai resonator (memperkuat getaran suara).
Suara
dihasilkan karena getaran pipa yang disebabkan udara yang melalui glotis.
Berbagai otot yang terkait pada laring mengendalikan suaradan juga menutup lubang
atas laring sewaktu menelan.
4.
Trakea
Trakea
merupakan pipa yang tersusun dari cincin-cincin tulang rawan. Batang
tenggorokan tersusun atas tulang-tulang rawan yang berbentuk cincin. Trakea
tersusun atas 16 sampai 20 cincin-cincin tulang rawan yang berbentuk
cincin-cincin tulang rawan ini di bagian belakangnya tidak tersambung yaitu
ditempat trakea menempel pada esophagus. Trakea atau batang tenggorok kira-kira
9 cm panjangnya.
Trakea
dilapisi selaput lendir yang terdiri atas epitelium bersilia dan sel cangkir.
Silia ini bergerak menuju ke atas ke arah laring, maka dengan gerakan ini debu
dan butir-butir halus lainnya yang turut masuk bersama dengan pernapasan dapat
dikeluarkan. Hal ini berguna untuk mempertahankan agar trakea tetap terbuka;
karena itu, di sebelah belakangnya tidak tersambung, yaitu di tempat trakea
menempel pada esofagus, yang memisahkannya dari tulang belakang. Saluran yang
terletak pada leher paling depan dan terus masuk rongga dada sampai bercabang
menjadi dua bronkus utama.
b. Saluran pernapasan bawah
1. Bronkus
Bronkus
kanan lebih pendek dan lebih lebih lebar dari pada yang kiri, sedikit lebih
tinggi dari pada arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang yang disebut bronkus lobus atas; cabang kedua timbul
setelah cabang utama lewat dibawah arteri, disebut bronkus lobus bawah.
Bronkus
kiri lebih panjang dan lebih langsing dari pada yang kanan, dan berjalan di
bawah arteri pulmonalis sebelum di belah menjadi beberapa cabang dan berjalan
ke lobus bawah dan atas.
a.
Bronkus utama, merupakan saluran menuju
masing-masing paru, yang selanjutnya bercabang-bercabang terus menjadi berbagai
ukuran bronkus.
b. Bronkus,
cabang-cabang saluran napas yang makin mengecil menjadi bronkus kecil.
c. Bronkus
kecil, yang terus bercabang menjadi bronkeolus.
2.
Bronkeolus
Bronkiolus
merupakan cabang dari bronkus yang berakhir pada alveolus. Bronkiolus berfungsi
sebagai saluran udara pernafasan dari bronkus menuju gelembung – gelembung
alveolus. Saluran yang paling kecil yang masih bercabang lagi yang akhirnya pada
ujungnya terdapat alkeolus.
3.
Alveolus
Merupakan
gelembung-gelembung sangat kecil, berdinding satu lapis sel epitel dan di
sebelah luarnya di rajut oleh anyaman kapiler, di umpamakan seperti bola
(alveolus) yang di bawa dengan rajut (kapiler paru). Dinding dalam alveolus
mengandung surfaktan, yang berguna untuk merendahkan tegangan permukaan,
sehingga mudah berkembang kempis. Bila mengempis tidak sampai kolaps dan ketika
mengembang tidak sampai pecah.
4.
Rongga toraks
Rangka dada yang terdiri atas tulang dan
tulang rawan. Batas-batas yang membentuk rongga di dalam toraks :
a. Sternum
dan tulang rawang iga iga di depan
b. Kedua
belas ruas tulang punggung beserta cakram antarruas(diskus intervertebralis)
yang terbuat dari tulang rawan di belakang
c. Iga-iga beserta otot interkostal di samping
d. Diafragma
di bawa
e. Dasar
leher di atas
Sebelah
kanan dan kiri rongga dada terisi penuh oleh paru paru beserta pembungkus
pleuranya: pleura ini membungkus setiap belah, dan membentuk batas leteral pada
mediastinum.
Mediastinum ialah
ruang di dalam rongga dada antara kedua paru paru.isinya jantung dan pembuluh
pembuluh darah besar,usofagus,duktus torasika,aorta desendens,vena kava
superior,saraf vagus,dan frenikus,dan sejumlah besar kelenjar limfe.
5.
Paru-paru
Paru-paru
ada dua, merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada.
Terletak di sebelah kanan dan kiri dan ditengah dipisahkan oleh jantung beserta
pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak didalam mediastinum.
Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apeks (puncak) diatas dan
muncul sedikit lebih tinggi dari pada klavikula didalam dasar leher. Pangkal
paru-paru duduk diatas landau rongga toraks, diatas diafragma. Paru-paru
mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga, sisi belakang yang menyentuh
tulang belakang, dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan jantung.
Lobus
paru-paru (belahan paru-paru). Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau
lobus oleh fisura. Paru-paru kanan mepunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua
lobus. Setiap lobus tersusun atas lobuka. Sebuah pipa bronkial kecil masuk ke
dalam setiap lobula dan semakin bercabang, semakin menjadi tipis dan akhirnya
berakhir menjadi kantong kecil-kecil, yang merupakan kantong-kantong udara
paru-paru.Jaringan paru-paru elastis, berpori, dan seperti spons. Didalam air,
paru-paru mengapung karena udara yang ada di dalamnya.
Hilus(tampuk)
paru paru di bentuk oleh struktur berikut:
a. Arteri pulmonalis,yang
mengembalikan darah tanpa oksigen ke dalam paru-paru untuk di isi oksigen.
b. Vena pulmonalis, yang
mengembalikan darah berisi oksigen dari paru-paru ke jantung.
c. Bronkus, yang
bercabang beranting membentuk pohon bronkial, merupakan jalan udara utama.
d. Arteri bronkialis, keluar
dari aorta dan menghantarkan darah arteri ke jaringan paru-paru.
e. Vena bronkialis ,mengembalikan
sebagian darah dari paru-paru ke vena kava superior.
f.
Pembuluh
limfe, yang masuk keluar paru-paru,sangat banyak.
g. Persarafan, paru-paru
mendapat pelayanandari saraf vagusdan saraf simpati.
h. Kelenjar limfe, semua
pembuluh limfe yang menjelajahistruktur paru-paru dapat menyalurkan ke dalam
kelenjar yang ada di tampuk paru-paru.
Pleura,
Setiap paru-paru di lapisi membran serosa rangkap dua,yaitu pleura.pleura viselaris erat melapisi
paru-paru,masuk ke dalam fisura,dan dengan demikian mamisahkan lobus dari satu
dari yang lain. Membran ini kemudian di lipat kembali ke sebelah tampuk
paru-paru dan membentuk pleura parietalisdan
melapisi bagian dalam dinding dada. Pleura yang melapisi iga-iga ialah pleura kostalis,bagian yang menutupi
diafragma ialah pleura diafragmatikadan
bagian yang terletak di leher ialah
pleura servikalis. Pleura ini di perkuat oleh membran yang kuat bernama membran suprapleuralis(fasia sibson) dan
di atas membran ini terletak arteri subklavia.
Di
antara kedua lapisan pleura itu terdapat sedikit eksudat untuk meminyaki
permukaannya dan menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada yang
sewaktu bernapas bergerak. Dalam keadaan sehat kedua lapisan itu satu dengan
yang lain erat bersentuhan. Ruang atau rongga pleura itu hanyalah ruang yang
tidak nyata, tapi dalam keadaan tidak normal udara atau cairan memisahkan kedua
pleura itu dan ruang di antaranya menjadi jelas.
2.2. Penyakit ISPA
Penyakit
infeksi pada saluran pernafasan atas meliputi faringitis, laringitis, sinusitis
dan tonsilitis.
A. Faringitis
1. Pengertian
Faringitis
Faringitis
adalah peradangan yang terjadi pada faring, faringitis akut merupakan
peradangan pada tenggorokan yang paling sering terjadi. Faringitis akut berat
sering di sebut sebagai Strep thoat, karena
pada umumnya di sebabkan oleh streptokokus
2. Etiologi
faringitis
Penyakit
ini dapat di sebabkan oleh streptokokus hemolitik, stafilokokus, bakteri dan
virus. Terjadi peningkatan kasus faringitis gonokokus yang di sebabkan
diplokokus gram negatif.
3. Patofisiologi
Faringitis
4. Tanda
dan gejala faringitis
a. Tenggorokan
merah
b. Nyeri
tenggorokan
c. Demam
d. Nyeri
tekanan nodus limfe servikal
e. Malaise
f.
Batuk
g. Suara
serak
h. Kesulitan
menelan
5. Pemeriksaan
diaknostik; pada klien Faringitis kultur organisme penyebab dari faring
6. Komplikasi
Faringitis
a. Sinusitis
b. Ototismedia
c. Abses
peritonsial
d. Mastoiditis
e. Adenitis
servikal
f.
Demam rematik
g. Nefritis
7. Penata
laksanaan Faringitis
Pemberian terapi
berdasarkan penyebabnya
a. Bakterial
; antimikrobial
b. Streptokokus
; penisilin
c. Klien
alergi penisilin sapaloprim
d. AB
di berikan selama 10 hari untuk stepkokus grup A
e. Diet
cair atau lunak pada tahap akut
f.
Pemberian cairan intervena perlu
diberikan pada kondisi parah
g. Klien
di anjurkan banyak minum 2-3 liter/hari
8. Pendidikan
kesehatan pada klien, untuk mencegah penularan infeksi
a. Jelaskan
penghindaran kontak dengan orang lain sampai demam hilang
b. Hindari
penggunaan alkohol, merokok, makanan yang dingin.
c. Beri
dorongan kepada klien untuk minum 2-2,5 liter/hari
d. Anjurkan
berkumur dengan cairan normal
B. Laringitis
1. Pengertian
Laringitis
Laringitis adalah
peradangan membran mukosa yang melapisi laring dan di sertaai edema vita suara
2. Etiologi
Laringitis
a. Virus
b. Bakteri
c. Perluasan
Infeksi Rhinitis
Selain
etiologi di atas dapat juga di sebabkan oleh :
a. Suhu
udara yang dingin
b. Perubahan
temperatur tiba-tiba
c. Pemajanan
terhadap debu
d. Bahan
kimia
e. Asap
atau uap
f.
Gangguan vita suara berlebihan
g. Merokok
berlebihan
3. Patofisiologi
Laringitis
Laringitis
4. Tanda
dan Gejala
a. Laringitis
akut
Ø Suara
Serak
Ø Tidak
dapat mengeluaran suara (aponia)
Ø Batuk
berat
Ø Tenggorokan
nyeri dan gatal
b. Laringitis
kronis
Ø Suara
serak yang persistem
Ø Nyeri
tenggorokan memburuk pada pagi dan malam hari
Ø Batuk
kering dan keras
5. Komplikasi
Laringitis : Sinusitis kronik dan bronkitis kronik
6. Pemeriksan
diagnostik ; pada klien laringits kultur organisme penyebab dari laring
7. Penatalaksanaan
a. Laringitis
Akut
Ø Pemberian
Zat iritan
Ø Mengikstirahatkan
Suara
Ø Hindari
Merokok
Ø Istirahat
di tempat tidur
Ø Inhalasi
Uap
Ø Pemberian
Antibiotik pada klien infeksi dengan bakteri
b. Laringitis
kronis
Ø Istirahat
suara
Ø Pengobatan
terhadap infeksi
Ø Membatasi
merokok
Ø Inhalasi
uap
Ø Pengobatan
kortikosteroid tropikal
C. SINUSITIS
1. Pengertian
Sinusitis adalah
peradangan pada membran mukosa sinus. Sinusitis merupakan penyakit yang sering
terjadi meskipun kejadiannya mulai berkurang dengan adaanya antibiotika.
2. Etiologi
sinusitis antara lain :
a. Sreptokokus
pneumonia
b. Stapilokokus
aureus
c. Haemofius
influen
d. Infeksi
gigi
e. Komplikasi
rinitis
3. Patofisiologis
Sinusitis
Virus/bakteri
infeksi / abses gigi komplikasi rhinitis
Mekanisme pertahan tubuh menurun
Sinusitis
4. Tanda
dan gejala sinusitis
a. Sinusitis
Akut
Ø Nyeri
kepala hebat dan vertigo
Ø Nyeri
pada sinus
Ø Edema
orbita
Ø Sekret
nasal yang purulen
Ø Klien
mengalami demam
b. Sinusitis
Kronik:
Ø Pelayan
mengalami batuk
Ø Sekret
purulent menurun
Ø Nyeri
kepala kronis pada daerah periobrital
Ø Kemampuan
penciuman hilang
Ø Nyeri
wajah terutama pada saat bangun tidur pagi hari
5. Test
diagnostik pada klien sinusitis
a. Kultur
organisme penyebab dari hidung atau tenggorokan
b. Pemeriksaan
rongten sinus
6. Komplikasi sinus
Komplikasi yang sering
terjadi pada sinusitis antara lain :
a. Osteomyelitis
pada tulang-tulang yang berdekatan
b. Abses
otak
c. Trombosis
sinus venosus
d. Selulitis
obrital
e. Septicemia
7. Penatalaksanaan
sinusitis
Tuuan pengobatan
sinusitis akut adalah untuk mengontrol insfeksi, memulihkan kondisi mukosa
nasal, dan menghilangkan nyeri.
a. Pemberian
antibiotik; amoksisilin dan ampisilin.
Alternatif bagi klien
yang alergi terhadap penisilin adalah trimetoprim/ sulfametoksazol.
b. Irigasi
hidung, efektif membuka sumbatan saluaran, sehingga memungkinkan drainase
eksudat purulen.
c. Dekongestan
orak adalah Drixoral dan Dimetapp
d. Dekongestan
topikal yang umum diberikan afrin dan otrivin.
e. J9ika
dalam 7-10 Hari terus menunjukan gejala, maka sinus harus diiirigrasi.
D. Rinitis
1. Pengertian
Rinitis adalah suatu
imflamsi yang timbul pada membran mukosa hidung dapat bersipat akut ataupun
kronis.
Rinitis akut merupakan membran mukosa hidung dan sinus-sinus
aksesoris. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan
sering terjadi pada musim dingin dengan insidens tertinggi pada awal musim
hujan dan musim semi.
Rinitis kronis merupakan suatu peradangan kronis pada membran
mukosa hidung yang dapat disebabkan oleh infeksi akut yang berulang, alergi
ataupun karena rinitis vasomotor.
2. Etiologi
rinitis
a. Infeksi
saluran penafasan atas
b. Penggunaan
dekongestan secara terus menerus, oral kontrasefsi, kokain dan anti hipertensi
c. Benda
asing yang masuk kedalam hidung
d. Neoplasama
da massa
3. Patofisiologi
-insfeksi
saluran nafas atas
-benda asing
dalam hidung
Daya tubuh
menurun
Rinitis
4. Tanda
dan gejala Rhinitis
a. Rhinitis
akut biasanya mengalami demam dengan disertai menggigil dan kelemahan
b. Kongesti
nasal
c. Sekresi
hidung purulen
d. Gatal
pada hidung
e. Bersin-bersin
f.
Sakit kepala, terutama pada klien dengan
komplikasi sinus
g. Pda
rhinitis kronis terjadi obstruksi nasal yang disertai perasaan kaku Dan
tertekan pada hidung serta vertigo.
5. Penatalaksanaan
sinus
a. Hindari
alergan yang menyebabkan rhinitis: debu, asap, bau, tepung, spray dan asp rokok
b. Lakukan
inhalasi aerosol nasal untuk mengencerkan sekresi nasal.
c. Anjurkan
pada klien tentang penggunaan obat-obat terutama aerosol nasal
d. Anjurkan
mengembuskan hidung sebelum memberikan obat kedalam rongga hidung, untuk
mencapai kesembuhan maksimal.
E. Tonsilitis
dan abses peritonsilar
1. Pengertian
Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil dan kriptanya.
Sedangkan peritonsilar adalah infeki yang terjdi diatas tonsil dalam jaringan
pilar anterior dan platum mole.
2. Etiologi
Tonsilitis disebabkan
oleh streptokokus group A. Sedangkan abses peritonsilar terjadi setelah infeksi
tonsilitis.
3. Patofisiologi
tonsilitis
Streptokokus
group A
Masuk kedalam
tubuh
Mrkanisme
pertahanan tubuh menurun
abses
peritonsilar
4.
Tanda dan gejala
a.
Tonsil
Ø Sakit
tenggorokan
Ø Demam
dan menggigil
Ø Klien
mengorok
Ø Kesulitan
menelan
Ø Malaise
Ø Pernafasan
adenoid
b.
Abses peritonsilar
Ø Disfagia
Ø Nyeri
setempat
Ø Suara
besar
Ø Pembengkakan
platum nole sampai setengah ostium dari mulut kefaring
5.
Pemerisaan diagnostik pada klien
tonsilitis, kultur usap tonsilar
6.
Konplikasi tonsilitis; kerusakan jantung
dan ginjal, pneumonia
7.
Penatalaksanaan medis tonsilitis
a.
Klien istirahat 6-8 jam/hari
b.
Gunakan cairan kumur secara tratur
c.
Pemberian cairan 2-2,5 liter/hari
d.
Pemberian antibiotik
e.
Insisi abses dan drainase
2.3. Asuhan keperawatan pada klien
dengan infeksi sistem pernafasan atas terdiri dari pengkajian data, diagnosa
keperawatan, perencanaan, keperawatan pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
1.
Pengkajian
data
a.
Riwayat kesehatan
·
Apakah ada tanda dan gejala sakit kepala
·
Apakah ada sakit tenggorokan ?
·
Apakah ada nyeri tenggorok ?
·
Apakah ada sakit menelan ?
·
Apakah ada batuk ?
·
Apakah ada suara serak ?
·
Apakah ada demam ?
·
Apakah hidung tersumbat ?
·
Apakah ada rasa tidak nyaman umum dan
keletihan ?
·
Kapan gejala timbul ?
·
Apakah ada faktor pencetusnya ., jika
ada hal apa yang dapat meringankan atau memperburuk gejala tersebut ?
·
Apakah ada riwayat alergi / adanya
penyakit yang timbul bersamaan ?
b.
Pemeriksaan Fisik :
Ø Inspeksi
menunjukan pembengkakan , lesi . atau asimetris hidung , perdarahan.
Ø Inspeksi
mukosa hidung : warna kemerahan , pembengkakan atau eksudat dan polip hidung
yang mungkin terjadi dalam rhinitis kronis
Ø Palpasi
sinus frontalis dan maksilaris , terhadap nyeri tekan yang menujukan inflamasi
Ø Inspeksi
tenggorok , warna kemerahan ,lesi .
Ø Inspeksi
tonsil dan faring , warna warna kmerahan, asimetri adanya drainase , ulserasi
atau pembesaran
Ø Palpasi
trakhea , apakah posisi pada garis tengah leher, apakah ada massa, deformitas
Ø Palpasi
nodus limfe leher; apakah terjadi pembesaran, nyeri tekanan yang berkaitan
1. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan
pada pengkajian diagnosa keperawatan utama pada klien infeksi sistem nafas
atas, sebagai berikut:
a. Tidak
efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi berlebihan akibat
proses inflamasi
b. Gangguan
rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas akibat infeksi.
c. Gangguan
komunikasi verbal yang berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas akibat
infeksi/pembegkakan
d. Defisit
volume cairan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan sekunder akibat
diaforesis yang berkaitan dengan demam
e. Kurang
pengetahuan menegnai perawatan penyakitnya
2. Perencanaan Keperawatan
Dalam
menyusun perencanaan keperawatan berpedoman pada diagnosa keperawatan yang ditemukan,
Diagnosa 1
Tidak
efektifnya bersihan jalan nafas berubungan dengan sekresi berlebihan akibat
proses inflamasi
Tujuan:
besihan jalan nafas efektif
Kriteria
hasil:
a.
Frekuensi nafas normal 16-20x/menit
b.
Bunyi nafas bersih
c.
Kongesti hilang
d.
Jalan nafas bersih
Intervensi:
Ø Kaji
perubahan pola nafas.
Rasional: Pola nafas dapat berubah
karena ada sumbatan jalan nafas
Ø Tingkatan
masukan cairan 2-3 liter/hari
Rasional: hidrasi dapat membantu
mengencerkan lendir
Ø Lakukan
inhalasi dua kali/hari
Rasional: dengan menghirup uap dapat
mengencerkan sekresi dan mengurangi inflamasi mukosa
Ø Anjurkan
klien memilih posisi semi fowler
Rasional: untuk meningkatkan drainase
dari sisi sinus yang terinfeksi
Ø Kolaborasi
dalam pemberian pengobatan sistemik atau topikal
Rasional: untuk membantu menghilangkan
kongesti nasal atau tenggorok.
Diagnosa 2
Gangguan
rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan iritasi jalan nafas akibat infeksi
Tujuan
: meningkatkan kenyamanan; nyeri teratasi
Kriteria
hasil: klien mengikuti tindakan yang dianjurkan, nyeri berkurang atau hilang
Intervensi:
1) Kaji
tingkat nyeri: frekuensi, durasi, skala
Rasional: untuk mengetahui perubahan
nyeri
2) Berikan
kompres hangat pada bagian yang nyeri
Rasional: untuk menghilangkan nyeri
3) Pemberian
analgesik sesuai perogram pengobatan
Rasional: untuk menghilangkan nyeri
4) Anjurkan
klien untuk istirahat 6-8 jam/hari
Rasional: istirahat dapat membantu
menghilangkan rasa nyeri
5) Anjurkan
klien untuk melakukan teknik hygiene pada mulut dan hidung
Rasional: untuk membantu menghilangkan
rasa tidak nyaman setempat
Diagnosa 3
Gangguan
komunikasi berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas akibat
infeksi/pembengkakan
Tujuan:
gangguan komunikasi teratasi
Kriteria
hasil: klien dapat melakukan komunikasi secara nonverbal.
Intervensi:
1. Jelaskan
pada klien untuk mengurangi berbicara selama serangan akut
2. Rasional:
untuk mempercepat penyembuhan penyakit
3. Anjurkan
berkomunikasi nonverbal dengan isyarat
4. Anjurkan
berkomunikasi melalui tulisan bila memungkinkan
5. Rasional:
karena rengangan pita suara lebih lanjut dapat menghambat pulihnya suara dengan
sempurna
Diagnosa 4
Defisit
volume cairan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan akibat
diaforesis(berkeringat banyak) berkaitan dengan demam,
Tujuan
: kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria
hasil:
Ø Intake
cairan adekuat 2-3liter sehari
Ø Tidak
terdapat tanda-tanda dehidrasi
Ø Suhu
normal 36ºC-37ºC
Intervensi:
1) Anjurkan
klien minum 2-3 liter perhari selama fase akut kecuali ada kontraindikasi
Rasional:
hal ini dapat memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh
2) Observasi
tanda-tanda dehidrasi
Rasional:hal
ini dapat mengetahui kekurangan cairan sedini mungkin
3) Observasi
tanda-tanda vital
Rasional
kekurangan cairan dapat meningkatkan suhu tubuh
4) Kolaborasi
dalam pemberian cairan intravena.
Rasional:
pemenuhan kebutuhan cairan secara cepat, jika peroral tidak memungkinan.
Diagnosa 5
Kurang
pengetahuan mengenai perawatan penyakitnya
Tujuannya:
pemahaman klien tentang penyakitnya meningkat
Keriteria
hasil: menunjukan pemahaman tentang perawatan penyakitnya; pencegahan infeksi,
diet, istirahat dan pengobatan.
Intervensi
1) Jelaskan
pentingnya cuci tangan
Rasional: untuk
mencegah terjadinya infeksi
2) Jelaskan
tentang pentingnya minum obat secara teratur
Rasional: mencegah
resistensi obat dan mempercepat penyembuhan
3) Jelaskan
tentang pentingnya diet
Resional: untuk
meningkatkan daya tahan tubuh
4) Jelaskan
pentingnya istirahat dan tidur yang cukup 6-8 jam/hari
Rasional: untung
mendukung daya tahan tubuh dan mengurangi terhadap infeksi pernafasanJelaskan
kepada klien agar menutup mulut saat batuk dan bersin
Rasional: untuk
mencegah penularan penyakit pada orang lain.
3.
Pelaksanaan
Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan
sesuai dengan rencana keperawatan yang telah disusun pada perencanaan.
4.
Evaluasi
keperawatan
a. bersihkan
jalan nafas efektif
1. frekuensi
nafas normal
2. bunyi
nafas bersih
3. jalan
nafas klien bersih
b. kenyamanan
klien meningkat
1. nyeri
berkurang / hilang
2. skala
nyeri 0-3
c. komunikasi
lancar
1. klien
dapat melakukan komunikasi nonverbal
2. klien
mampu melakukan komunikasi melalui tulisan
d. intake
cairan adekuat
1. intake
cairan 2-3 liter perhari
2. tidak
terdapat tanda-tanda dehidrasi
3. suhu
tubuh normal
e. pemahaman
klien tentang penyakit meningkat yaitu dalam hal
1. pencegahan
infeksi
2. diet
3. istirahat
4. pengobatan
2.3. Penyakit COPD
Chronic
Obstruktive Pulmonary Disease (COPD ) atau PPOK
adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kondisi obstruksi
ireversibel progresif aliran udara ekspirasi. Individu dengan COPD
mengalami etngakesulitan bernafas, batuk
produktif, dan intoleransi aktivitas. Klainan utama yang tampak pada individu
dengan COPD adalah bronkitis emifesema dan asma. Terdapat suatu hubungan
etiologis dengan sekuensial antara bronkitis kronis dengan emifisema.
Klasifikasi
Penyakit yang termasuk dalam kelompok
penyakit paru obstruksi kronik adalah sebagai berikut:
Bronkitis kronik
Bronkitis merupakan definisi klinis
batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya
3 bulan dalam satu tahun dan terjadi paling sedikit selama 2 tahun
berturut-turut.
Etiologi
Terdapat
3 jenis penyebab bronchitis akut, yaitu :
- Infeksi: stafilokoku, sterptokokus, pneumokokus,
haemophilus influenzae.
- Alergi
- Rangsang: misal asap pabrik, asap mobil, asap rokok dll
Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi
kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh, yaitu :
- Penyakit Jantung Menahun, baik pada katup maupun
myocardium. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya
tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.
- Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut, merupakan
sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus.
- Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi), menyebabkan gangguan
susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah
terjadi.
Rokok, yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu
getar selaput lender bronchus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan
lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Patofisiologi
Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Pada infeksi saluran nafas bagian atas, biasanya virus, seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut.
Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Pada infeksi saluran nafas bagian atas, biasanya virus, seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut.
Bronchitis timbul sebagai
akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama
rokok tembakau). Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan
menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa dan bronchospasme.
Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami
:
- Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada
bronchi besar, yang mana akan meningkatkan produksi mukus.
- Mukus lebih kental
- Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme
pembersihan mukus. Oleh karena itu, "mucocilliary defence" dari
paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang
infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan
hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat.
- Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali
sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Mukus
kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat
beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar.
Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar, tetapi
biasanya seluruh saluran nafas akan terkena.
- Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan
mengobstruksi jalan nafas, terutama selama ekspirasi. Jalan nafas
mengalami kollaps, dan udara terperangkap pada bagian distal dari
paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar, hypoxia
dan asidosis.
- Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan ; ratio
ventilasi perfusi abnormal timbul, dimana terjadi penurunan PaO2.
Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2.
- Klien terlihat cyanosis. Sebagai kompensasi dari
hipoxemia, maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). Pada saat
penyakit memberat, diproduksi sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena
infeksi pulmonary.
- Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan
peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi, hypoxemia
akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF.
Asma
Asma merupakan suatu
penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-cabang trakeobronkial
terhadap pelbagai jenis rangsangan. Keadaan ini bermanifestasi sebagai
penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan reversible akibat
bronkospasme.
Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah
dilatasi bronkus dan bronkiolus kronik yang mungkin disebabkan oleh berbagai
kondisi, termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus, aspirasi benda asing,
muntahan, atau benda-benda dari saluran pernapasan atas, dan tekanan terhadap
tumor, pembuluh darah yang berdilatasi dan pembesaran nodus limfe
Etiologi
Etiologi penyakit ini belum diketahui.
Penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor risiko yang terdapat pada penderita
antara lain:
- Merokok sigaret yang berlangsung lama
- Polusi udara
- Infeksi peru berulang
- Umur
- Jenis kelamin
- Ras
- Defisiensi alfa-1 antitripsin
- Defisiensi anti oksidan
Pengaruh dari masing-masing
faktor risiko terhadap terjadinya COPD adalah saling memperkuat dan faktor
merokok dianggap yang paling dominan.
Patofisiologi
Fungsi paru mengalami
kemunduran dengan datangnya usia tua yang disebabkan elastisitas jaringan paru
dan dinding dada makin berkurang. Dalam usia yang lebih lanjut, kekuatan
kontraksi otot pernapasan dapat berkurang sehingga sulit bernapas.
Fungsi paru-paru menentukan
konsumsi oksigen seseorang, yakni jumlah oksigen yang diikat oleh darah dalam
paru-paru untuk digunakan tubuh. Konsumsi oksigen sangat erat hubungannya dengan
arus darah ke paru-paru. Berkurangnya fungsi paru-paru juga disebabkan oleh
berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi ventilasi paru.
Faktor-faktor risiko
tersebut diatas akan mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulkan
kerusakan pada dinding bronkiolus terminalis. Akibat dari kerusakan akan
terjadi obstruksi bronkus kecil (bronkiolus terminalis), yang mengalami
penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke alveoli
pada saat inspirasi, pada saat ekspirasi banyak terjebak dalam alveolus dan
terjadilah penumpukan udara (air trapping).
Hal inilah yang menyebabkan
adanya keluhan sesak napas dengan segala akibatnya. Adanya obstruksi pada awal
ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase
ekspirasi. Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun
perfusi darah akan mengalami gangguan (Brannon, et al, 1993).
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala akan mengarah pada dua tipe
pokok:
1.
Mempunyai gambaran klinik dominant kearah
bronchitis kronis (blue bloater).
2.
Mempunyai gambaran klinik kearah emfisema
(pink puffers).
Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut:
1.
Kelemahan badan
2.
Batuk
3.
Sesak napas
4.
Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
5.
Mengi atau wheeze
6.
Ekspirasi yang memanjang
7.
Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit
lanjut
8.
Penggunaan otot bantu pernapasan
9.
Suara napas melemah
10.
Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
11.
Edema kaki, asites dan jari tabuh
3.
Emfisema paru
Emfisema paru merupakan
suatu definisi anatomik, yaitu suatu perubahan anatomik paru yang ditandai
dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus
terminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus. Sesuai dengan definisi
tersebut, maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus)
tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak
termasuk emfisema, melainkan hanya sebagai "overinflation".
Patogenesis
Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema, yaitu:
Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema, yaitu:
- Hilangnya elastisitas paru. Protease (enzim paru)
merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan
merusakkan serabut elastin. Akibat hal tersebut, kantung alveolar
kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit.
Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar.
- Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah
paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi.
- Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan
untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat
pada pemeriksaan X ray.
- Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika
klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat, tekanan positif intratorak
akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas.
Tipe Emfisema
Terdapat
tiga tipe dari emfisema :
- Emfisema Centriolobular. Merupakan tipe yang sering
muncul, menghasilkan kerusakan bronchiolus, biasanya pada region paru
atas. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar
tetap bersisa.
- Emfisema Panlobular (Panacinar). Merusak ruang udara
pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. Bentuk
ini bersama disebut centriacinar emfisema, timbul sangat sering pada
seorang perokok.
- Emfisema Paraseptal. Merusak alveoli pada lobus bagian
bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru.
Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan.
Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi enzim
alpha-antitripsin. Pada keadaan lanjut, terjadi peningkatan dyspnea dan
infeksi pulmoner, seringkali Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul.
Patofisiologi
Emfisema merupakan kelainan
dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar, yang mana akan menyebabkan
overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara terganggu akibat dari
perubahan ini. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari
adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli, kollaps jalan nafas
sebagian dan kehilangan elastisitas recoil.
Pada saat alveoli dan septa kollaps, udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada "dead space" atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Pada saat alveoli dan septa kollaps, udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada "dead space" atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Emfisema juga menyebabkan
destruksi kapiler paru, lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan
penurunan ventilasi. Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai
dengan usia, tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda),
biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok.
Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan
penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan
radiologi
Pada
bronchitis kronik secara radiologis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.
Pemeriksaan radiologi
Pada bronchitis kronik
secara radiologis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.
Tubular shadows atau farm lines terlihat
bayangan garis-garis yang parallel, keluar dari hilus menuju apeks paru.
Bayangan tersebut adalah bayangan bronkus yang menebal.
2.
Corak paru yang bertambah
Pada emfisema paru terdapat 2 bentuk kelainan
foto dada yaitu:
1.
Gambaran defisiensi arteri, terjadi
overinflasi, pulmonary oligoemia dan bula. Keadaan ini lebih sering terdapat
pada emfisema panlobular dan pink puffer.
2.
Corakan paru yang bertambah.
Pemeriksaan faal paru
Pada bronchitis kronik
terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang normal. Pada
emfisema paru terdapat penurunan VEP1, KV, dan KAEM (kecepatan arum ekspirasi
maksimal) atau MEFR (maximal expiratory flow rate), kenaikan KRF dan VR,
sedangkan KTP bertambah atau normal. Keadaan diatas lebih jelas pada stadium
lanjut, sedang pada stadium dini perubahan hanya pada saluran napas kecil
(small airways). Pada emfisema kapasitas difusi menurun karena permukaan
alveoli untuk difusi berkurang.
2. Analisis
gas darah
Pada bronchitis PaCO2
naik, saturasi hemoglobin menurun, timbul sianosis, terjadi vasokonstriksi
vaskuler paru dan penambahan eritropoesis. Hipoksia yang kronik merangsang
pembentukan eritropoetin sehingga menimbulkan polisitemia. Pada kondisi umur
55-60 tahun polisitemia menyebabkan jantung kanan harus bekerja lebih berat dan
merupakan salah satu penyebab payah jantung kanan.
3. Pemeriksaan
EKG
Kelainan
yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah terdapat kor
pulmonal terdapat deviasi aksis kekanan dan P pulmonal pada hantaran II, III,
dan aVF. Voltase QRS rendah Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan V6 rasio R/S
kurang dari 1. Sering terdapat RBBB inkomplet.
4. Kultur
sputum, untuk mengetahui petogen penyebab infeksi.
5. Laboratorium
darah lengkap.
2.4.Askep
Pada penderita COPD
Suatu asuhan
keperawatan yang komprehensif baik bio, psiko, sosial dan melalui proses
perawatan yaitu mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
Pengkajian
Pengkajian mencakup informasi
tentang gejala-gejala terakhir dan manifestasi penyakit sebelumnya. Berikut ini
beberapa pedoman pertanyaan untuk mendapatkan data riwayat kesehatan dari
proses penyakit:
- Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan
pernapasan?
- Apakah aktivitas meningkatkan dispnea?
- Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi
aktivitas?
- Kapan pasien mengeluh paling letih dan sesak
napas?
- Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh?
- Riwayat merokok?
- Obat yang dipakai setiap hari?
- Obat yang dipakai pada serangan akut?
- Apa yang diketahui pasien tentang kondisi dan
penyakitnya?
Data tambahan yang dikumpulkan melalui observasi dan
pemeriksaan sebagai berikut:
- Frekuensi nadi dan pernapasan pasien?
- Apakah pernapasan sama tanpa upaya?
- Apakah ada kontraksi otot-otot abdomen selama
inspirasi?
- Apakah ada penggunaan otot-otot aksesori
pernapasan selama pernapasan?
- Barrel chest?
- Apakah tampak sianosis?
- Apakah ada batuk?
- Apakah ada edema perifer?
- Apakah vena leher tampak membesar?
- Apa warna, jumlah dan konsistensi sputum pasien?
- Bagaimana status sensorium pasien?
- Apakah terdapat peningkatan stupor? Kegelisahan?
- Hasil pemeriksaan diagnosis seperti :
- Chest X-Ray :
Dapat menunjukkan hiperinflation
paru, flattened diafragma, peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan
tanda vaskular/bulla (emfisema), peningkatan bentuk bronchovaskular
(bronchitis), normal ditemukan saat periode remisi (asthma)
- Pemeriksaan Fungsi Paru : Dilakukan untuk
menentukan penyebab dari dyspnea, menentukan abnormalitas fungsi tersebut
apakah akibat obstruksi atau restriksi, memperkirakan tingkat disfungsi
dan untuk mengevaluasi efek dari terapi, misal : bronchodilator.
- TLC : Meningkat pada bronchitis berat dan
biasanya pada asthma, menurun pada emfisema.
- Kapasitas Inspirasi : Menurun pada emfisema
- FEV1/FVC : Ratio tekanan volume ekspirasi (FEV)
terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan
asthma.
- ABGs : Menunjukkan proses penyakit kronis,
seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis
kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma, pH normal
atau asidosis, alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap
hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma).
- Bronchogram : Dapat menunjukkan dilatasi dari
bronchi saat inspirasi, kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi
(emfisema), pembesaran kelenjar mukus (bronchitis)
- Darah Komplit : Peningkatan hemoglobin (emfisema
berat), peningkatan eosinofil (asthma).
- Kimia Darah : Alpha 1-antitrypsin dilakukan
untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer.
- Sputum Kultur : Untuk menentukan adanya infeksi,
mengidentifikasi patogen, pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit
keganasan atau allergi.
- ECG : Deviasi aksis kanan, gelombang P tinggi
(asthma berat), atrial disritmia (bronchitis), gel. P pada Leads II, III,
AVF panjang, tinggi (bronchitis, emfisema), axis QRS vertikal (emfisema)
- Exercise ECG, Stress Test : Menolong mengkaji
tingkat disfungsi pernafasan, mengevaluasi keefektifan obat
bronchodilator, merencanakan/evaluasi program.
Palpasi:
1.
Palpasi pengurangan pengembangan dada?
- Adakah fremitus taktil menurun?
Perkusi:
- Adakah hiperesonansi pada perkusi?
- Diafragma bergerak hanya sedikit?
Auskultasi:
- Adakah suara wheezing yang nyaring?
- Adakah suara ronkhi?
- Vokal fremitus nomal atau menurun?
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama pasien mencakup berikut
ini:
- Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan
dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi sputum, batuk tidak efektif,
kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.
- Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas
pendek, mucus, bronkokontriksi dan iritan jalan napas.
- Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
ketidaksamaan ventilasi perfusi
- Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.
- Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan anoreksia.
- Ganggua pola tidur berhubungan dengan
ketidaknyamanan, pengaturan posisi.
- Kurang perawatan diri berhubungan dengan
keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan dan insufisiensi
ventilasi dan oksigenasi.
- Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap
konsep diri, ancaman terhadap kematian, keperluan yang tidak terpenuhi.
- Koping individu tidak efektif berhubungan dengan
kurang sosialisasi, ansietas, depresi, tingkat aktivitas rendah dan
ketidakmampuan untuk bekerja.
- Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi, tidak mengetahui sumber informasi.
Masalah kolaboratif/Potensial komplikasi yang dapat
terjadi termasuk:
- Gagal/insufisiensi pernapasan
- Hipoksemia
- Atelektasis
- Pneumonia
- Pneumotoraks
- Hipertensi paru
- Gagal jantung kanan
Intervensi Keperawatan
- Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi sputum, batuk
tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.
- Tujuan: Pencapaian bersihan jalan napas klien
- Intervensi keperawatan:
- Beri pasien 6 sampai 8 gelas cairan/hari
kecuali terdapat kor pulmonal.
- Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik
pernapasan diafragmatik dan batuk.
- Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser,
inhaler dosis terukur, atau IPPB
- Lakukan drainage postural dengan perkusi dan
vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai yang diharuskan.
- Instruksikan pasien untuk menghindari iritan
seperti asap rokok, aerosol, suhu yang ekstrim, dan asap.
- Ajarkan tentang tanda-tanda dini infeksi yang
harus dilaporkan pada dokter dengan segera: peningkatan sputum,
perubahan warna sputum, kekentalan sputum, peningkatan napas pendek,
rasa sesak didada, keletihan.
- Berikan antibiotik sesuai yang diharuskan.
- Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan
imunisasi terhadap influenzae dan streptococcus pneumoniae.
- Pola napas tidak efektif
berhubungan dengan napas pendek, mukus, bronkokontriksi dan iritan jalan
napas.
- Tujuan: Perbaikan pola pernapasan klien
- Intervensi:
- Ajarkan klien latihan bernapas diafragmatik dan
pernapasan bibir dirapatkan.
- Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas
dengan periode istirahat. Biarkan pasien membuat keputusan tentang
perawatannya berdasarkan tingkat toleransi pasien.
- Berikan dorongan penggunaan latihan otot-otot
pernapasan jika diharuskan.
- Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi
- Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas
- Intervensi keperawatan:
- Deteksi bronkospasme saat auskultasi .
- Pantau klien terhadap dispnea dan hipoksia.
- Berikan obat-obatan bronkodialtor dan
kortikosteroid dengan tepat dan waspada kemungkinan efek sampingnya.
- Berikan terapi aerosol sebelum waktu makan,
untuk membantu mengencerkan sekresi sehingga ventilasi paru mengalami
perbaikan.
- Pantau pemberian oksigen.
- Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan
oksigen.
- Tujuan: Memperlihatkan kemajuan pada tingkat
yang lebih tinggi dari aktivitas yang mungkin.
- Intervensi keperawatan:
- Kaji respon individu terhadap aktivitas; nadi,
tekanan darah, pernapasan.
- Ukur tanda-tanda vital segera setelah
aktivitas, istirahatkan klien selama 3 menit kemudian ukur lagi
tanda-tanda vital.
- Dukung pasien dalam menegakkan latihan teratur
dengan menggunakan treadmill dan exercycle, berjalan atau latihan
lainnya yang sesuai, seperti berjalan perlahan.
- Kaji tingkat fungsi pasien yang terakhir dan
kembangkan rencana latihan berdasarkan pada status fungsi dasar.
- Sarankan konsultasi dengan ahli terapi fisik
untuk menentukan program latihan spesifik terhadap kemampuan pasien.
- Sediakan oksigen sebagaiman diperlukan sebelum
dan selama menjalankan aktivitas untuk berjaga-jaga.
- Tingkatkan aktivitas secara bertahap; klien
yang sedang atau tirah baring lama mulai melakukan rentang gerak
sedikitnya 2 kali sehari.
- Tingkatkan toleransi terhadap aktivitas dengan
mendorong klien melakukan aktivitas lebih lambat, atau waktu yang lebih
singkat, dengan istirahat yang lebih banyak atau dengan banyak bantuan.
- Secara bertahap tingkatkan toleransi latihan
dengan meningkatkan waktu diluar tempat tidur sampai 15 menit tiap hari
sebanyak 3 kali sehari.
- Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan dispnea, kelamahan, efek
samping obat, produksi sputum dan anoreksia, mual muntah.
- Tujuan: Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
- Intervensi keperawatan:
- Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini.
Catat derajat kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
- Auskultasi bunyi usus
- Berikan perawatan oral sering, buang sekret.
- Dorong periode istirahat I jam sebelum dan
sesudah makan.
- Pesankan diet lunak, porsi kecil sering, tidak
perlu dikunyah lama.
- Hindari makanan yang diperkirakan dapat
menghasilkan gas.
- Timbang berat badan tiap hari sesuai indikasi.
- Gangguan pola tidur
berhubungan dengan ketidaknyamanan, pengaturan posisi.
- Tujuan: Kebutuhan tidur terpenuhi
- Intervensi keperawatan:
- Bantu klien latihan relaksasi ditempat tidur.
- Lakukan pengusapan punggung saat hendak tidur
dan anjurkan keluarga untuk melakukan tindakan tersebut.
- Atur posisi yang nyaman menjelang tidur,
biasanya posisi high fowler.
- Lakukan penjadwalan waktu tidur yang sesuai
dengan kebiasaan pasien.
- Berikan makanan ringan menjelang tidur jika
klien bersedia.
- Kurang perawatan diri
berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan
dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.
- Tujuan: Kemandirian dalam aktivitas perawatan
diri
- Intervensi:
- Ajarkan mengkoordinasikan pernapasan
diafragmatik dengan aktivitas seperti berjalan, mandi, membungkuk, atau
menaiki tangga.
- Dorong klien untuk mandi, berpakaian, dan
berjalan dalam jarak dekat, istirahat sesuai kebutuhan untuk menghindari
keletihan dan dispnea berlebihan. Bahas tindakan penghematan energi.
- Ajarkan tentang postural drainage bila
memungkinkan.
- Ansietas berhubungan dengan ancaman
terhadap konsep diri, ancaman terhadap kematian, keperluan yang tidak
terpenuhi.
- Tujuan: Klien tidak terjadi kecemasan
- Intervensi keperawatan:
- Bantu klien untuk menceritakan kecemasan dan
ketakutannya pada perawat.
- Jangan tinggalkan pasien sendirian selama
mengalami sesak.
- Jelaskan kepada keluarga pentingnya mendampingi
klien saat mengalami sesak.
- Koping individu tidak efektif
berhubungan dengan kurang sosialisasi, ansietas, depresi, tingkat
aktivitas rendah dan ketidakmampuan untuk bekerja.
- Tujuan: Pencapaian tingkat koping yang optimal.
- Intervensi keperawatan:
- Mengadopsi sikap yang penuh harapan dan
memberikan semangat yang ditujukan pada pasien.
- Dorong aktivitas sampai tingkat toleransi
gejala
- Ajarkan teknik relaksasi atau berikan rekaman
untuk relaksasi bagi pasien.
- Daftarkan pasien pada program rehabilitasi
pulmonari bila tersedia.
- Tingkatkan harga diri klien.
- Rencanakan terapi kelompok untuk menghilangkan
kekesalan yang sangat menumpuk.
- Kurang pengetahuan
berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak mengetahui sumber informasi.
- Tujuan: Klien meningkat pengetahuannya.
- Intervensi keperawatan:
- Bantu pasien mengerti tentang tujuan jangka
panjang dan jangka pendek; ajarkan pasien tentang penyakit dan
perawatannya.
- Diskusikan keperluan untuk berhenti merokok.
Berikan informasi tentang sumber-sumber kelompok.
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
PPOK merupakan kondisi ireversibel yang
berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar
udara paru-paru.
3.2 Saran
Berusaha dan selalu
bekerja sama akan membawa kita menuju keberhasilan dalam menyelesaikan masalah
dan mengerjakan tugasserta melakukan tugas dengan penuh tanggung jawab akan
membuat kita semakin menjadi dewasa dan mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar